Borobudur Cultural Feast 2017

Januari 04, 2018 / Berita

PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan & Ratu Boko (Persero) atau TWC sebagai pengelola Candi Borobudur memiliki kewajiban untuk melestarikan warisan budaya bangsa yang adiluhung serta terus berupaya mengembangkan pariwisata kawasan Borobudur berbasis potensi lokal, salah satunya melalui event Borobudur Cultural Feast. Sukses dengan penyelenggaraan Borobudur Cultural Feast 2016, tahun ini TWC kembali menyelenggarakan Borobudur Cultural Feast 2017. Acara yang akan di selenggarakan pada hari Sabtu dan Minggu tanggal 30 – 31 Desember 2017 di halaman parkir Candi Borobudur ini akan dimulai pukul 09.00 – 23.00 WIB pada hari Sabtu sedangkan pada hari Minggu akan di mulai pukul 09.00 – 17.00 WIB. Pada acara ini panitia telah menyediakan 2 stand dan Foodtruck. Stand Borobudur 1 sejumlah 22 unit, stand Borobudur 2 sejumlah 26 unit dan Foodtruck sejumlah 8 unit.

Event ini merupakan wujud Sinergi BUMN bekerjasama dengan budayawan, seniman dan musisi di lingkungan Candi Borobudur. Semangat dari Desa dan warga untuk penampilan karya terbaiknya di bidang kuliner dan produk kreatif sangatlah tinggi. Hampir semua desa turut mendaftar dan mengisi stand yang disediakan oleh panitia. Mereka akan menyuguhkan produk kuliner dan kreatif yang memiliki cirri khas dan merupakan produk lokal yang berkualitas tinggi. Kerajinan unik serta lukisan khas Borobudur dari Galery Limanjawi turut meramaikan.


Sambutan Oleh Menteri Pendidikan & Kebudayaan RI Bpk. Prof. Dr. Muhadjir Effendy

Direktur Utama TWC Edy Setijono mengatakan, pelaksanaan Borobudur Cultural Feast 2017 tidak terlepas dari pesona dan magnet Candi Borobudur yang luar biasa. “Candi Borobudur bagaikan sebuah lampu besar menyala yang memberikan terang bagi lingkungan di sekitarnya. Dikelilingi 20 desa dengan potensi beragam, kawasan Candi Borobudur semakin kaya akan destinasi-destinasi wisata yang potensial untuk dikunjungi. Kearifan lokal masyarakat di sekitar Borobudur memberikan ruh bagi geliat perkembangan pariwisata Borobudur,” kata Edy Setijono.

Lebih lanjut Edy Setijono menjelaskan, Candi Borobudur sebagai mahakarya dunia diharapkan dapat dijadikan referensi maupun inspirasi bagi semua yang ingin belajar tentang seni, budaya bahkan pertanian sekitar tahun 750-an Masehi. “Saya berharap masyarakat dan peneliti dapat belajar banyak dari mahakarya Borobudur,” ujarnya.


Kegiatan Lomba Memasak

Melalui acara Borobudur Cultural Feast 2017 ini, masyarakat dijamin akan mendapatkan sensasi tontonan yang berbeda dari gelaran eksebisi di tempat lain. Program yang diselenggarakan oleh TWC ini dimaksudkan sebagai embrio wisata malam dan wisata kaki lima Borobudur yang berkelas seperti tempat tujuan wisata di luar negeri.

Borobudur Cultural Feast yang diinisiasi oleh TWC pada tahun 2016 silam, telah diawali dengan kegiatan Sonjo Kampung. Sonjo Kampung bertujuan untuk merajut kembali benang-benang kekerabatan, kebersamaan dan paseduluran, yang terwujud dalam gerakan gotong-royong menyongsong terwujudnya kemandirian dalam olah gerak masyarakat desa. Dari kegiatan tersebut diharapkan lahir kekuatan Wisata Desa yang mendatangkan kemakmuran dan kesejahteraan bagi masyarakat.

Dalam rangkaian kegiatan Borobudur Cultural Feast (BCF) 2017 antara lain akan ditampilkan Pesta Kuliner & Produk Kreatif, Panggung Seni Borobudur, Lomba Kreasi Masak Beong, Lomba Kreasi Busana Borobudur, Pesta Masak Besar dan Balkondes Nite. Rangkaian kegiatan Borobudur Cultural Feast 2017 ini banyak melibatkan partisipasi warga masyarakat Borobudur. Pagelaran ini disusun berdasarkan konsep gotong royong ajaran leluhur yaitu Gotong-Royong Pitutur Luhur – Guyup Rukun Gemah Ripah Loh Jinawi – Jayaning Nusantara – Amargo Laku-Lelaku. Gotong-royong merupakan kekuatan utama para leluhur untuk mewujudkan pembangunan Candi Borobudur pada tahun 750 Masehi. Keseluruhan pagelaran ini ditampilkan selaras dengan situasi serta inspirasi dari pahatan panel relief Candi Borobudur. Pada Seremoni Pembukaan BCF pada 30 Desember 2017 menampilkan Lomba Kreasi Masak Beong, Pertunjukan Seni Angklung, Jathilan, Keroncong Puri Irama Borobudur, Koes Plus Mania, Tari Topeng Ireng “Cipto Kawedar” Ngaran Borobudur, Peragaan Lomba Kreasi Busana Borobudur, Gembel Necies Band, Badai (Eks Kerispatih) & Dexter Band, Kubro Siswo WTB Ngablak Magelang, Leak & Kuda Kepang Wahyu Turonggo Budoyo Magelang, dsb.

Sedangkan pada 31 Desember 2017 akan menampilkan Dolanan Tradisional Nusantara Kampung Dolanan Sodongan Bumiharjo Borobudur, Demo Masak Besar, Karawitan Sanggar Ngesti Giri Manunggal Desa Giritengah Borobudur, Strek Desa Sambeng Borobudur, Ring of Fire Band, Santoz Magician, Bregada Desa Karanganyar Borobudur, Prajuritan Soreng Warga Setuju Ngablak Magelang, dsb. Pada acara Demo Masak Besar, nantinya akan dilakukan masak dengan menggunakan peralatan masak besar yang dipimpin oleh 7 Chef berpengalaman dan dibantu oleh 50 orang tenaga bantu masak yang berasal dari 20 desa se-Kecamatan Borobudur. Menu memasak pada acara ini yaitu Sop Senerek dan Wedang Kacang khas Borobudur. Dalam waktu 2 jam para jago masak ini akan mendemonstrasikan cara masak yang atraktif untuk 1000 pack. “Sengaja kami pilih Sop Senerek dan Wedang Kacang karena jenis masakan ini sudah menjadi trade mark di wilayah Borobudur dan sekitarnya” papar Jatmiko menjelaskan. Demo masak besar ini diharapkan menjadi tontonan yang menarik bagi wisatawan.

Event BCF 2017 ini diselenggarakan tentunya dengan tetap memegang teguh komitmen untuk senantiasa mendukung pengembangan industri kreatif nasional, terutama yang berbasis pada nilai-nilai seni dan budaya Indonesia. Event ini sekaligus sebagai upaya untuk menggalang kunjungan wisatawan asing maupun domestik yang diharapkan berkunjung ke kawasan Borobudur pada malam pergantian Tahun Baru 2018. Event Borobudur Cultural feast ini merupakan event rutin yang dilaksanakan setiap tahun. Adapun maksud dan tujuannya adalah memberikan suguhan hiburan bagi masyarakat, utamanya dalam menyambut moment pergantian malam Tahun Baru melalui event Balkondes Nite. Candi Borobudur menjadi magnet tersendiri bagi wisatawan untuk menikmati suasana Borobudur di malam hari. Event ini juga sekaligus memberikan ruang bagi masyarakat untuk dapat berpartisipasi memeriahkan moment pergantian malam Tahun Baru dari desa masing-masing dengan menampilkan potensi-potensi unggulan yang membanggakan.

Event BCF 2017 juga akan disemarakkan Balkondes Nite oleh 16 Balkondes dan 4 Balai Desa di Kecamatan Borobudur. Balkondes Nite merupakan wujud doa kesyukuran pada Tuhan Yang Maha Esa bagi aparat desa dan warga desa atas karunia, kesehatan, keselamatan, kemakmuran dan kesatuan warga desa di Kecamatan Borobudur. Balkondes Nite menjadi semacam Pesta Desa, mewujudkan kesyukuran dalam bentuk perayaan selamat tinggal tahun 2017 dan selamat datang tahun 2018. Adapun kemasan acara Balkondes Nite diantaranya Bazar Potensi Desa, Seni Tradisi, Musik, Kesenian Khas, Pemutaran Film, Doa Renungan, Pelepasan Lampion, dsb. Dengan doa dan harapan semoga di tahun 2018 akan menjadi lebih baik dalam berbagai hal bagi kehidupan masyarakat desa.

Berita Terkait

Borobudur punya 25 agenda wisata sepanjang 2017

Bukan hanya Banyuwangi yang padat acara sepanjang tahun, Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko pun berencana menggelar 25 perhelatan sepanjang 2017. “Manajemen Taman Wisata Candi Borobudur, […]

Borobudur Sebagai Sumber Inspirasi Kemanusiaan dan Peradaban

Konferensi Internasional Borobudur ke-3 (3rd Borobudur International Conference) kembali digelar di kompleks Taman Wisata Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Jumat (4/5/2018). Sejumlah tokoh agama, lembaga, dan masyarakat […]

Torch Relay Concert Asian Games 2018 Digelar di Kompleks Candi Prambanan

Setelah sebelumnya obor Asian Games 2018 tiba untuk pertama kalinya di Yogyakarta pada Selasa (17/7/2018) kemarin, kegiatan bertajuk Torch Relay Concert Asian Games 2018 kembali digelar pada Rabu […]