Sendratari Prambanan dan Teknologi Sepanggung demi para Millennial

Oktober 12, 2016 / Artikel

Lantai panggung terbuka di kawasan Candi Prambanan yang biasa dipakai mementaskan Sendratari Ramayana, Senin (10/10/2016) malam tiba-tiba retak. Patahan retakan mengular dari tengah panggung ke tepi-tepiannya. Suara retakan disusul gemuruh batu berjatuhan menggema. Para penari yang ada di atas panggung pun berlarian. Panggung tersebut ternyata tak benar-benar retak. Kejadian tersebut merupakan potongan adegan itu adalah bagian dari pementasan drama tari dari sanggar asuhan seniman Yogyakarta kenamaan, Didik Nini Thowok.

Malam itu, untuk pertama kalinya di Candi Prambanan, dipentaskan sendratari yang ditambahi dengan teknologi visual video mapping garapan studio Sembilan Matahari. Menggunakan 16 proyektor dengan tingkat lumens (kecerahan) yang tinggi (mulai dari 10.000 hingga 25.000 lumens), Sembilan Matahari memproyeksikan video dan animasi ke lantai panggung, latar, dan tiga candi utama di kompleks Candi Prambanan.

Perpaduan kemasan yang menarik, sentuhan teknologi, dan tarian-tarian kontemporer, diharapkan bisa menjadi jembatan budaya bagi generasi muda masa kini untuk kembali menonton pertunjukan seni budaya yang mulai ditinggalkan.


Mengapa video mapping?

Dengan ditambahkannya citra visual pendukung cerita di atas panggung, cerita menjadi lebih menarik diikuti. Sebagai contoh, lantai panggung tidak monoton berwarna putih saja, melainkan bisa disulap menjadi layaknya hijaunya padang rumput, tandusnya tanah gersang, atau menambahkan obyek-obyek lain yang sulit, seperti sungai, dan efek-efek seperti gempa tadi. Penari yang memerankan Roro Jonggrang berdiri di satu titik di mana latar belakangnya menampilkan efek visual menarik yang menceritakan transformasi Roro Jonggrang menjadi patung batu candi.

Ada pula efek tanah yang merekah, batu-batu berjatuhan saat adegan gempa bumi yang merusak Candi Prambanan ratusan tahun silam. Adegan-adegan sulit seperti itu menjadi lebih mudah diceritakan dengan bantuan video mapping. Sebelumnya, Candi Prambanan memang telah dihiasi dengan sinar lampu warna-warni yang menarik. Namun dengan proyeksi video mapping seperti ini bisa membuat cerita, sehingga bukan hanya cahaya lampu saja, namun juga efek visual yang lebih dramatis.

disunting dari: http://tekno.kompas.com/read/2016/10/12/20213487/sendratari.prambanan.dan.teknologi.sepanggung.demi.para.milenial

Artikel Terkait

Menjelajahi Candi Borobudur lewat Google Street View

Candi Borobudur kini bisa dijelajahi lewat Google Street View. Layanan yang diresmikan pada Minggu (27/9/2015) ini menjadikan Candi Borobudur sebagai situs bersejarah yang bisa dilihat dengan panorama 360 […]

Kertas Emas Ditemukan di Ratu Boko

Ada berbagai penemuan benda-benda arkeologi di bukit Ratu Boko. Benda-benda warisan bisa jadi atribut kerajaan yang ada di daerah di masa lalu, atau instrumen ajaran agama yang dilakukan […]

TWC Customer Award 2015

Kerjasama selalu menjadi cara yang tepat untuk meningkatkan jumlah turis. Oleh karena itu, PT. TWC Borobudur, Prambanan & Ratu Boko membuat penghargaan yang diberi nama “TWC Customer Award […]