Ajaran Budha dalam Relief Mahakarmavibhangga

Januari 17, 2018 / Artikel

Ilustrasi Orang Kaya memberikan bantuan kepada Orang Miskin

Jika kita melihat lebih jauh, kita dapat melihat bahwa relief yang ditemukan di kaki Candi Borobudur terkait dengan esensi Buddhisme. Relief yang menghiasi kaki candi menggambarkan ajaran tentang penyebab penderitaan manusia dan hasil tindakan manusia di kehidupan selanjutnya. Dengan membandingkan patung relief dengan kitab suci Buddhis atau Sutra, dapat dilihat bahwa relief bait suci terhubung satu sama lain untuk menceritakan sebuah kisah yang mewakili Sutra Mahakarmavibhanga, atau hukum penderitaan dan hasil dari perbuatan.
160 panel yang berisi adegan menceritakan tentang kehidupan sehari-hari, perbuatan yang menghasilkan kebaikan dan kejahatan, konsekuensi yang ada pada tindakan, serta surga dan neraka. 23 dari keseluruhan panel adalah kutipan dari Sutra Mahakarmavibhanga. Seperti yang ditunjukkan oleh kata karma, kelegaan ini menggambarkan berbagai tindakan manusia dan dampaknya. Beberapa adegan bisa diartikan sebagai simbol “samutpada pretitya”, yang mengacu pada mandala Bhacavakra dari Tibet.


Ilustrasi: Berbagai jenis hewan simbol reinkarnasi orang yang berdosa

Dalam mandala ini, (1) avidya (indiferen) dilambangkan oleh seorang wanita buta, (2) samskara (dorongan dasar) dilambangkan dengan gerabah yang dibuat oleh perajin, (3) vijnana (kesadaran) diilustrasikan oleh monyet yang memetik buah, 4) Namarupa (kepribadian) diilustrasikan sebagai perahu dalam perjalanan, (5) sadayatana (enam indra organ) adalah rumah dengan banyak jendela, (6) sparsa (hubungan) diilustrasikan dengan ciuman, (7) vedana (perasaan) adalah Diilustrasikan melalui seorang pria dengan panah di matanya, (8) trsna (keinginan) diilustrasikan dengan adegan minum, (9) upadana (amal) diilustrasikan oleh aktivitas memetik buah dari pohon, (10) bhava (proses kemunculan) Diilustrasikan dengan wanita hamil, (11) jati (kelahiran) diilustrasikan oleh tempat lahir, dan (12) jaramaranam (usia tua dan kematian) diilustrasikan dengan sebuah mayat dibawa ke tempat pemusnahan.
Arti keseluruhan rangkaian relief menunjukkan bahwa konsep karma disini ditempatkan dalam konteks “samutpada pratitya” yang terdiri dari 12 rantai yang menggambarkan penyebab penderitaan manusia. Kini, rangkaian relief telah ditutup dan dibentuk sebagai kaki candi. Dengan demikian, kaki Candi Borobudur mengandung esensi Buddhisme yang menekankan pertama dari dua Kebenaran; Hidup adalah kesengsaraan, dan penderitaan memiliki sebab.

Artikel Terkait

Sendratari Prambanan dan Teknologi Sepanggung demi para Millennial

Lantai panggung terbuka di kawasan Candi Prambanan yang biasa dipakai mementaskan Sendratari Ramayana, Senin (10/10/2016) malam tiba-tiba retak. Patahan retakan mengular dari tengah panggung ke tepi-tepiannya. Suara retakan […]

Restorasi Prambanan Pasca Gempa Jogja 2006

Pada tanggal 27 Mei 2006, pukul 05.55, Yogyakarta dan beberapa wilayah Klaten (Jawa Tengah) mengalami gempa bumi yang sangat dahsyat dengan skala 5,9 skala Richter sekitar satu menit. […]

Alat Musik Kuno pada Sound of Borobudur 2016

Hal yang menarik pada Sound Of Borobudur adalah hadirnya mereplika alat musik dawai yg sama dengan gambaran dawai di relief Karmawibhangga Candi Borobudur. Replika alat musik dawai ini […]